![]() |
| Mengungkap Peta Politik Istana Yang Semakin Panas |
Salah satunya adalah issue tentang kebangkita komunisme yang terus digembar-gemborkan yang membuat energi kita banyak terbuang sia-sia. Tidak heran karena komunismen pernah membuat luka kelam yang tak terlupakan dinegara kita.
Semua issue tersebut dimanfaatkan untuk membuat kegaduhan secara politik bangsa kita sekarang. Kita pun pasti bingung sebenarnya apa yang terjadi didalam era kekuasaan Jokowi dan Jusuf Kalla yang seolah membuat situasi negara tidak stabil.
Hubungan serta komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat menjadi tidak harmonis yang dibuktikan dengan berbagai aksi demo berkali-kali. Bahkan hubungan antar aparat keamanan juga semakin menegang dengan aksi saling serang.
Baca Juga : Darurat PHK di Indonesia , Kinerja Jokowi Dipertanyakan !
Begitu juga dengan komunikasi antar organisasi masyarakat dengan Partai Politik yang terus merenggang. Dengan melihat kondisi pelik seperti ini, Kami menciba berkonsultasi dengan beberapa pengamat politik senior di Indonesia.
Lalu dari beberapa pendapat yang kami dapatkan ternyata ada satu kesimpulan yang cukup mengagetkan. Semua ini bisa terjadi akibat ada beberapa fraksi atau oknum didalam Istana sendiri yang saling merebut kepentingan.
Berita Politik Nasional - Sehingga efek negatif yang terjadi sampai keluar istana mempengaruhi kondisi kestabilan persatuan bangsa ini. Semua ini bisa dilihat dari kehidupan secara politik juga ekonomi.
Berdasarkan kesimpulan yang kami rangkum, Ada tiga kubu didalam Peta Politik istana sekarang yang makin tajam untuk mengiris satu sama lain. Semuanya beraksi saling membunuh karakter satu sama lain dibelakang Jokowi.
Kubu pertama yaitu dari oknum yang memiliki hubungan erat dengan Megawati Soekarno Putri. Mereka adalah Luhut, Hendro Priyono, Puan Maharani, Teten Masduki, Dan juga Budi Gunawan.
Mereka adalah orang-orang yang memiliki kendali utama dalam setiap kebijakan pemerintah yang diambil saat ini. Kubuh pertama inilah yang dinilai sengaja memperkeruh hubungan TNI dan Polri.
Kubu ini sukses memberikan kedudukan bagi Budi Gunawan untuk menjadi Kepala BIN (Badan Intelijen Negara). Padahal seharusnya jabatan penting ini harusnya diduduki oleh pejabat TNI.
Tujuan mereka yaitu satu tujuan untuk mempertahankan kursi kepresiden Jokowidodo hingga nanti kembali mencalonkan diri kembali pada 2019 yang akan datang.
Kubu kedua yaitu dari Gatot Nurmantyo dan Tito Karnavian. Dua jenderal tertinggi ini bisa dikatakan seperjuangan. Nama Panglima Gatot menjadi populer ditengah persaingan politik yang terjadi.
Semua itu disebabkan suksesnya mengamankan aksi 411 dan aksi berjilid lainnya. Ini membuat Gatot aman dalam posisinya sekarang yang mendapat hampir seluruh dukungan dari umat muslim.
Mengenai kesuksesan Gatot sekarang ini, Maka kubu pertama tidak diam begitu saja. Semua ini akan berpotensi sebagai persaingan politik yang akan membahayakan kursi kepresidenan Jokowi pada tahun 2019.
Maka gesekan-gesekan mulai diciptakan oleh kubu pertama, Salah satunya dengan memancing percahan didalam kubu TNI. Diketahui selama ini Panglima TNI dari jaman order baru selalu berasal dari Angkatan Darat.
Hal itulah yang menjadi alasan penggesekan antara kubu Angkatan Darat dan Angkatan Udara yang terjadi belakangan ini.
Tapi Gatot Nurmantyo juga melakukan serangan balik dengan menyerang Budi gunawan soal kasus penyelundupan 5.000 senjata.
Selain itu ada dari kubu Tito Karnavian yang merupakan Jenderal besar dalam Polri. Tapi jika kita amati selama ini kepopularitasannya sangatlah tidak terlalu mencolok.
Karena kendali Polri sampai saat ini hampir setengahnya masih berada ditangan Budi Gunawan yang merupakan anak emas Megawati. Apa lagi skenario penangkapan aktifis umat muslim yang terjadi semakin memperburuk citranya ditengah umat muslim.
Sehingga banyak yang menganggap Tito hanya dijadikan kambing hitam untuk memngelabui permainan yang sebenarnya dimainkan oleh Budi Gunawan sebagai Kepala BIN.
Kubu yang ketiga juga sering disebut sebagai kubu tukang parkir istana yang dipelopori oleh Jusuf Kalla, Surya Paloh, Wiranto dan para menteri kabinet dari partai-partai Islam.
Secara kacamata politik kondisi mereka sebenarnya sangatlah menyedihkan sekali, karena peran mereka harus terkalahkan oleh kubu pertama. Mereka hanya dimanfaatkan sebagai perisai istana agar tidak diserang oleh umat islam, awak media, dan kemiliteran.
Bahkan Jusuf Kalla selaku wakil presiden seharusnya mempunyai power sendiri, namun karena besarnya pengaruh kubu pertama dia hanyalah bagaikan satpam yang siaga di istana.
Potret Peta Politik Istana seperti itulah yang membuat suasana negara kita semakin buruk setiap harinya. Demi kepentingan politik beberapa oknum masa depan bangsa dipertaruhkan begitu saja.

No comments:
Post a Comment