![]() |
| Suriah Ancam Eropa Soal Sanksi Tuduhan Senjata Kimia |
Berita Internasional - Kementrian Luar Negri Suriah mengeluarkan ancaman pada Eropa soal sanksi tuduhan senjata kimia yang dilayangkan kepada negaranya.
Ancaman itu keluar pada hari Selasa 18/07/2017 kemarin. Sehari sebelumnya Uni Eropa telah menjatuhkan sanksi kepada 16 pejabat militer dan ilmuwan Suriah.
Semua ini atas dugaan keterlibatannya dalam serangan bahan kimia di kota kecil Suriah Utara pada bulan April lalu. Sejumlah warga sipil pun ikut tewas juga pasukan pemerintah yang dituding bekerja sama atas serangan itu.
Baca Juga : Tito Geram Akan Tuduhan DPR Pada Kasus Pembacokan IT ITB
Di dalam satu pernyataan, sebagaimana diberitakan Xinhua Rabu, Kementerian itu mengatakan sanksi tersebut “tidak adil dan mencerminkan tekad para pejabat Barat untuk terus mendukung terorisme dan menyesatkan pendapat masyarakat”.
Berita Internasional Terpanas - Kementerian tersebut kembali menyatakan Suriah tidak menggunakan senjata kimi, dan juga membantah bahwan pemerintah memiliki bahan semacam itu.
“Sanksi ini menunjukkan kurangnya etika standard Barat dalam menangani krisis di dunia hari ini,” kata Kementerian tersebut.
Suriah telah berulangkali membantah tuduhan Barat mengenai penggunaan senjata kimia, dan Damaskus menuduh Barat memalsukan tuduhan untuk menekan pemerintah agar menyerahkan konsesi lebih banyak.
Pada akhir Juni Amerika Serikat mengatakan Pemerintahan Presiden Bashar al-Assad diduga tidak mengacuhkan peringatan yang telah dikeluarkan, untuk tidak melakukan serangan senjata kimia setelah AS mengatakan bahwa pihaknya melihat kemungkinan adanya persiapan serangan dengan menggunakan senjata kimia lain.
Pemerintah Barat, termasuk AS, mengatakan Pemerintah Suriah berada di balik serangan gas kimia di kota Khan Sheikhoun pada April, sehingga menewaskan puluhan orang. Sebagai tanggapan, Washington menembakkan peluru kendali jelajah ke pangkalan udara yang menurut AS merupakan tempat serangan itu dilancarkan.
Pemerintah Suriah membantah berada di balik serangan tersebut.
Pada 1 Juli, Pemerintah Suriah juga membantah laporan dari pengawas senjata kimia internasional yang mengatakan bahwa terjadi penggunanaan zat sarin, yang terlarang, dalam serangan pada April terhadap kota Khan Sheikhoun, pengawas senjata itu mengatakan mereka tidak memiliki kredibilitas apapun.
Penyelidikan gabungan PBB dan OPCW menemukan bukti bahwa pasukan Pemerintah Suriah bertanggung-jawab atas tiga serangan gas klorin pada 2014 dan 2015 serta petempur IS menggunakan gas mustar.
Kelompok gerilyawan Suriah juga telah menuduh militer menggunakan gas klorin ketika melawannya awal Juli dalam pertempuran di Damaskus Timur, dan militer Suriah dengan cepat membantah dengan menyebutnya rekayasa.
Kelompok Failaq Ar-Rahman mengatakan lebih dari 30 orang menderita sesak napas akibat serangan di Ain Tarma, Wilayah Ghouta Timur, tempat pasukan pemerintah berusaha menaklukkan kelompok gerilyawan.

No comments:
Post a Comment